Menjadi Guru Pembelajar Masa Kini

Menjadi Guru Pembelajar Masa Kini

Peran Guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai salah satu kunci keberhasilan belajar peserta didik. Guru Profesional adalah guru yang kompeten membangun proses  pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter Prima. Salah satu kunci untuk dapat mewujudkan hal tersebut adalah Guru tersebut mau belajar dan terus belajar (Professi dan Pedagogik), yang dikandung maksud bahwa kita sebagai seorang guru harus terus belajar agar bisa menghantarkan murid – murid untuk berdaya dan menjadi manusia merdeka (Mandiri). sebagaimana Ungkapan KI HAJAR DEWANTARA

“ Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya bersandar pada kekuatan sendiri baik lahir maupun batin, tidak bergantung pada orang lain “

Salah satu upaya pemerintah Pemerintah Melalui Kementrian Pendidikan Nasional adalah menyelenggarakan Pengembangan Profesi Berkelanjutan (PKB), agar upaya tersebut dapat dengan mudah di ukur, maka dipetakan menjadi sepuluh kelompok kompetensi. Upaya tersebut diatas tentunya akan menjadi kurang bermakna apabila selaku guru yang menjadi sasaran utama kurang dapat menindak lanjuti dengan sikap dan usaha yang kurang sungguh -sungguh.

Dan harus tetap kita ingat tentang dasar pendidikan  dari Bapak Pendidikan Kita KI HAJAR DEWANTARA yang meletakkan dasar – dasar pendidikan bahwa “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak – anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.”

Mari kita refleksikan bersama apa peran kita sebagai pendidik untuk dapat menuntun kekuatan kodrat dari murid murid kita, bagaimana kita bisa menjaga hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat murid murid kita.

“Pendidik itu memuntun tumbuh dan hidupny kekuatan kodrat yang ada pada anak – anak, agar dapat memperbaiki lakunya hidup (bukan dasarnya) dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.” (KI HAJAR DEWANTARA)

 

Apa peran saya sebagai guru dan Ingin menjadi guru seperti apa ?, itulah dua pertanyaan kunci  yang patut kita renungi dan mencari jawabannya.

 

Guru professional juga harus mampu mengenali diri dan peranannya sebagai pendidik. Bagaimana mungkin seorang pendidik akan berhasil mendidik peserta didiknya jika belum mengenali diri sendiri dan peranannya sebagai pendidik. Sebagai seorang pendidik tentu sudah seharusnya mengenali karakteristik dan kebutuhan murid, hal tersebut harus dimulai dari mengenali diri sendiri, yaitu  mengenali kekuatan dan kelemahan diri.

ARTIKEL MENARIK  LAINNYA :

Reorientasi Belajar dan Pembelajaran di Era Millenial

Cara Pengelolaan kelas yang harus dikuasai Pendidik

Empat metode pembelajaran yang paling relevan dengan pembelajaran abad-21

 

Serta bagi anda yang ingin dirindukan siswanya dalam pemebelajaran bisa simak dua tips berikut

Penelitian Ethna Reid menyimpulkan bahwa untuk menjadi guru yang baik ternyata yang paling utama adalah menanamkan 2 kebiasaan.

1.    Perbanyak memuji siswa, hindari mematahkan semangat belajar siswa dengan gerutuan dan

2.    memvariasikan metode mengajar antara metode menerangkan dan metode bertanya,  segera perbaiki kesalahan murid jika ada.

Metode ini dapat berhasil di belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, bagi guru yang ingin murid-muridnya mampu lebih baik dalam menguasai pelajaran, persering menggunakan metode ini.

Bagi orang tua yang ingin anak-anaknya dapat belajar dengan baik di sekolah, carilah sekolah dengan guru yang memiliki 2 kebiasaan tersebut.

Guru-guru dengan 2 kebiasaan ini mampu mengalahkan statistik dan membuat muridnya senang belajar di sekolah. Di rumah, orang tua juga dapat menggunakan 2 kebiasaan tersebut untuk mendidik anak. Dengan 2 kebiasaan sederhana ini, setiap anak akan kembali kepada fitrahnya, manusia yang cerdas dan merdeka.

 

Sumber:

·         Patterson, Kerry. Influencer: The Power to Change Anything,  dan

·         Ki Hajar Dewantara (Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka). cetakan ke 5, UNSARWI Tamansiswa, 2013

Previous
Next Post »